DR. Mukhtar, S.Th.I., M.Th.I

Mewaspadai Tafsiran dan Gerakan Keagamaan

“POST KHAWARIJ-ISISME”

Sebuah Pendekatan Hermenutika

Oleh :

DR. Mukhtar, S.Th.I., M.Th.I

            Pendekatan Hermeneutika juga berupaya menemukan gambaran dari sebuah bangunan makna yang benar yang terjadi dalam sejarah yang dihadirkan kepada kita oleh teks. Dalam prosesnya institusi pembaca dan penafsir sangat diperlukan, disamping “mencurigai” dan “mewaspadai” agar kita tidak tertipu oleh sebuah sistem tanda, pemikiran, gerakan, serta struktur gramatika bahasa yang ada di permukaan sehingga mengaburkan makna yang lebih obyektif. Jika kita bisa membaca bahasa agama bersama Sigmund Freud, Karl Marx, dan Friedrich Nietzsche, ketiganya dikenal sebagai bapak hermeneutika modern atau three master of prejudices. Sikap mewaspadai-mencurigai (prejudice) ini sesungguhnya tidak hanya dialamatkan kepada setiap teks yang kita jumpai, melainkan juga ditujukan kepada pihak pembacanya sendiri.

            Dari Freud kita  belajar bahwa sadar setiap pengarang, pembaca, pasti turut berperan dalam memandang dan menafsirkan realita. Isi  bahwa sadar yang paling dominan menurut Freud, adalah dorongan dan ilusi-ilusi libido. Kemudian Karl Marx kita diajak untuk mewaspadai kesadaran pengarang dan pembaca yang mudah sekali dipengaruhi oleh status ekonomi dan politik seseorang. Tesis ini menegaskan bahwa teks jenis apapun, termasuk teks keagamaan, tidak luput dari npenaruh ekonomi dan politik. Teks yang muncul dalam lingkaran istana tentu tudak akan sama teks yang muncul di luar istana. Membaca teks keagamaan dalam tekanan ekonomi dan politik yang mendesak, orang bisa saja terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan demi untuk memenuhi kebutuhannya dengan alasan “Jihad”. Pengaruh ini sangat rentang bagi orang yang pemahaman agamanya dangkal, yaitu pemahaman agama yang didapatkan dari rumah ke rumah, lewat buku-buku terjemahan yang menceritakan fadilah ibadah seperti banyak dilakukan oleh gerakan keagamaan yang sangat menekankan symbol dan lahiriah keislaman mulai cara berfikir, makan, memelihara jenggot samapi pakaian.

          Dalam konteks yang sama, sebuah teks atau ceramah keagamaan yang muncul dari dunia akademik dengan mempelajari agama secara ilmiah dan metodologis tentu tidak sama ceramah agama yang diterima secara instan yang biasa diajarkan di serambi mesjid dengan hanya membacakan dahsyatnya siksaan neraka dan nikmatnya surge. Sebagian besar informasi keagamaan kaum muslim di Indonesia diperoleh lewat apa yang diistilahklan Luthfi Syaukani dengan “Islam kaki lima”, yakni tempat tempat yang menjikan ajaran dan doktrin islam secara sederhana. “Islam kaki lima” bias ditemukan di mimbar0-mimbar khotbah di mesjid, ceramah tujuh menit, kuliah keagamaan di TV dan radio, dan tempat-tempat lain dimana informasi tentang keislaman “diobral” dengan murah. Sebagian besar orang yang ke mesjid atau yang mendengar ceramah-ceramah di TV atau radio, adalah orang yang tak memiliki kemewahan untuk merenung dan mencermati secara kritis apa yang dikatakan oleh para ustaz dan khatib. Selain karena mereka tak punya perangkat ilmu untuk menilai itu, mereka tak punya waktu karena disibukkan dengan hal-hal lain yang menjadi profesi mereka. Apa yang mereka dengar dari ustaz atau kahtib di “gerai-gerai kaki lima” itu, adalah apa yang menjadi pandangan keagamaan mereka. Se,mentara dari Nietzsche kita bisa belajar bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki dorongan untuk menguasai orang lain. Oleh karena itu kita perlu mewaspadai dalam memahami setiap teks dan jenis komunikasi  apapun karena di dalamnya terbesit maksud untuk mempengaruhi dan menundukkan orang lain.

           Selain dari faktor psikologis, ekonomi dan politik yang disebutkan Freud, Marx, maupun Nietzche, faktor-faktor itu antara lain geografis, budaya, referensi yang kita geluti serta guru-guru kita cukup berpengaruh dalam memotret cakrawala teks. Validitas pendektan hermeneutik ini bisa dibuktikan meskipun tidak selamanya benar ketika membaca embrio kemunculan kelompok khawarij adalah masyarakat Arab Badwi yang kodisi geografisnya yang ekstrim dan tandus sehingga kondisi geografis dan kultur mereka yang suka berpindah-pindah itu dapat mempengaruhi cara berfikir dalam memahami bahasa agama.

             Kita penting mempertimbangkan peringatan yang dikemukakan Freud, Marx maupun Nietzsche, hermeneutika sebagai sebuah metodologi penafsiran berusaha memperingatkan pembaca untuk bersikap waspada dan “curiga” kepada setiap teks, pembaca teks, serta gerakan pemikiran yang dapat mengantarkan seseorang kepada sikap dan tindakan-tindakan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip dan substansi ajaran agama dalam konteks pembacaan terhadap gerakan yang dilakukan oleh ISIS yang saya istilahkan “Post-Khawarij”. Gerakan ini sudah mengglobal, termasuk Indonesia dengan mengatasnamakan islam, menjadi sebuah ancaman yang paling mengerikan bagi kemanusiaan. Sebagian besar masyarakat Indonesia diresahkan dengan munculnya gerakan ini. Mereka menyebarkan aksi radikal yang tentunya sangat bertentangan dengan pesan agama yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal tanpa harus melihat latar belakangnya. Dalam konteks ke-Indonesiaan, gerakan keagamaan yang peling patut diwaspadai dan dicurigai adalah geakan keagamaan yang sangat bernafsu mendaratkan bangsa Indonesia dalam bingkai aturan-aturan yang sejalan dengan pesan Tuhan yang dipahami secara tekstual dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal dan realistis.

          Wallahu a’lamu bi al-sawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.